Chika mengusap pipinya yang basah. Ia kemudian tersenyum. Sedetik kemudian malah tertawa pelan. Lalu tertawa keras. Semakin keras dan keras. Aray hanya memandangi Chika dengan rasa heran.
Baru saja Chika putus. Cowoknya bilang dia bosan menjalani hubungan yang katanya hambar itu.
Ya, nggak pernah jalan berdua, nggak bisa ketemuan, nggak punya kesempatan nonton film bareng, banyak deh. Taulah, Chika kan emang lagi sibuk ngurusin ujian sekolahnya. Dan, dia pikir, cowoknya juga mungkin aja lagi sibuk belajar buat ujian akhir. Mereka berdua kan sama-sama kelas 3.
Tapi ternyata perkiraan Chika meleset jauh.
Meskipun dia sayang banget sama cowoknya itu, urusan perasaan kan nggak bisa dipaksain.
Cowoknya milih buat pisah dari Chika.
"Ka?" Chika menoleh pelan kearah Aray yang duduk termangu disebelahnya.
Sekarang ini, Chika baru aja selesai menumpahkan unek-unek, kesedihan dan kemarahannya.
Curhat gitu bahasa gaulnya. Yang nampung ya pasti Aray, satu-satunya orang yang selalu setia disisi Chika.
Chika tersenyum kecut, lalu menjawab "Ya?"
Aray menatap Chika penuh pertanyaan, hingga akhirnya Chika menyerah untuk terus tersenyum nggak jelas kayak gini. Ia mendesah pelan. Kepalanya tertunduk memandang tanah yang tergores-gores gerakan maju mundur kakinya. Sejurus kemudian, Chika menengadahkan kepala dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. "Kacau banget ya aku?" Chika mengusap pipinya yang mulai basah lagi. Aray tersenyum, "Aku nggak bilang gitu lo ya. Kamu sendiri yang nganggep kamu berantakan"
Chika tertawa hambar. Tangannya menggapai angin semilir yang meniup rambut panjangnya.
"Kamu pernah ngerasain sakit yang amat sangat nggak, Ray?" Chika memungut daun kering yang mulai berguguran di depannya. Ia melipat-lipat tulang daunnya hingga menyisakan gores-gores getah di jarinya.
"Kamu pernah nggak sih patah hati? sama cewek? hmpfh .. ehehe" Aray tertawa pelan, "Aku patah hatinya sama cowok, hahahaha"
Chika tersenyum, "Siapa? jangan-jangan Pak Pentol di depan sekolah itu ya? hahahaha"
Aray mendesah, "Hm ... pernah. Tapi, aku anggep aku nggak pernah patah hati"
Chika menoleh kearah Aray dan mengguncang bahu Aray lemah, "Kok nggak pernah cerita? Jahat, pake rahasia segala" katanya sambil cemberut dan menyobek-nyobek daun kering ditangannya.
Aray melirik sekilas kearah Chika, tapi kemudian berkata, "Selagi aku masih kuat buat menahannya sendiri, aku nggak akan pernah bikin orang lain ngerasain sakitnya juga. Apalagi orang yang aku sayang"
Mata Chika mengerjap pelan. Lamat-lamat diliriknya Aray.
"Kamu ... eng, itu .. sama aku? Eurr.."
Chika gelagapan dan kemudian memutuskan untuk diam. Ia menunggu Aray bicara lagi. Ya, biar semuanya jelas dan nggak menimbulkan makna konotasi kayak gini.
"Itu apa? Jangan ge-er deh Chikaaa" Aray menyikut lengan Chika pelan, kemudian tertawa.
Chika cemberut, "duh, nyebelin banget" dihentakkannya kaki mungilnya ke tanah, hingga debu-debu kecil berhamburan dan terbang terbawa angin sore itu. Ia berdiri dan berjalan menjauh.
Aray mencekal tangan Chika cepat. Ditariknya cewek itu kembali duduk ke bangku taman.
"Nggak usah merajuk, muka kamu tambah jelek" Chika kembali beringsut menjauh dari Aray. Tapi cowok itu dengan sigap menarik tangan Chika mendekat.
"Aku yakin kamu tau yang aku maksud, Ka," Wajah Aray berubah serius.
Tangannya terus menggenggam tangan Chika. Sedangkan tangan satunya terkepal di balik bangku taman. Kelihatan sekali dia sedang mencoba menahan sesuatu supaya nggak meluncur gitu aja dari mulutnya.
Chika melunak, matanya sendu, "Ya, aku ngerti"
Lama, Aray menatap Chika hingga mentari tinggal sepertiga muncul di balik awan. "Terus?"
Chika mendengus, "Kok nanya aku?"
"Ya katanya kamu ngerti. Gimana sih," Aray menarik Chika mendekat.
"Tapi aku nggak bisa gitu aja kan ngelupain cowok itu dalam waktu singkat. Jadi yaa ... kan nggak bisa cepet-cepet, Ray. Jadi, ehm, aku kan jadinya nggak bisa gitu, Ray. Kan aku ..."
"Duuh, berisik banget sih kudanil satu ini. Ge-er lagi kan," kata Aray sambil menjitak kepala Chika.
"Ya abisnya, daritadi omonganmu nggak jelas terus sih. Nyebelin!" Chika mengusap kepalanya yang tadi kena kutuk Aray. "Jangan pegang-pegang rambut! Abis shampoan nih aku!" katanya ketus
"Iyuh, pake shampo kucing aja gayanya selangit, hahaha"
Chika cemberut lagi, "Jadi?" Aray menoleh kearah Chika, "Seringkali orang-orang menghabiskan waktunya buat ngelupain seseorang yang pergi ninggalin mereka. Padahal harusnya kan nggak perlu kayak gitu juga kalee," kening Chika berkerut penuh tanda tanya.
"Bolehlah ngelupain, tapi cukup sampe angka 90% aja,"
"Kenapa gitu?"
Aray tersenyum, "Gimanapun kacaunya hubungan itu waktu berakhir, 10%-nya adalah moment-moment terindah yang pernah mereka dan pasangan mereka alami,"
Chika manyun, "Sok filosofis"
"Nggak percaya?" Aray menantang Chika yang termangu.
"Bukti!" Chika tersenyum penuh kemenangan. "Gampang," balas Aray
"Caranya?" Chika terlihat kebingungan. Aray menepuk punggung tangan Chika lembut, kemudian berdiri dan mengulurkan satu tangannya kearah Chika, "Hm?"
Tapi Chika masih bertahan di bangku taman.
Chika bengong nggak ngerti. Tapi kemudian Aray berkata, "Nggak ada salahnya kan langsung dicoba?"
Seulas senyum mengembang di bibir Chika, "Kita coba?" Aray mengangguk pasti, "Ya. Aku bakal ngebantu kamu mencapai angka 90% itu"
##
Senja kala itu begitu indah, ketika kita bisa mengerti arti penting sebuah keihklasan.
Meskipun awalnya terasa amat berat dan meninggalkan bekas luka yang amat sakit, berilah waktu pada diri kita sendiri untuk sekedar bertanya, "Bukankah ikhlas itu indah?"