Tapi Aray kelihatan santai menanggapi omelan Chika. Baginya, hal itu udah menjadi makanan pokok sehari-hari. Maka diam-diam Aray keluar ruangan. Dengan tetap cengengesan tentunya.
"Huh, selalu aja kayak gitu!" lagi-lagi Chika mengomel, kemudian ia curhat seputar kelakuan Aray pada murid-murid yang akan diajarnya saat itu.
**
"Oya, setelah ini kalian dapet pelajaran apa?" Aray bertanya pada siswa-siswi di kelas A sebelum pamit keluar. Ia menatap murid-muridnya sambil membereskan kertas soal di meja.
"Kimia, mas" jawab salah seorang murid. Aray kelihatan seperti mengingat-ingat sesuatu. kemudian ia berdehem, "Kimia? Siapa yang ngajar? Mbak Ch?"
"Ch?" tanya murid-murid serempak. Sekilas tersungging senyum kecil di bibir Aray, "iya, kita para pengajar terbiasa manggil nama pake kode. Kalo kimia yang ngajar cuma 2, mbak Ch sama mbak Ne"
"Ch itu kode buat mbak Chika, kalo Ne buat mbak Nenny," Aray tersenyum lagi melihat ekspresi murid-murid menunjukkan bahwa mereka mengerti. Mereka mengangguk, "Iya, mas. Mbak Ch yang ngajar"
Aray berjalan letih kearah kursi. Sambil mengusap pelan ujung kursi, ia bercerita, "Mbak Chika itu kerjaannya ngomeeeelll aja ke aku. Apalagi kalo dapet jam ngajar setelah aku" Aray menghela nafas sebentar, "Tau kenapa?" beberapa murid nyengir dan menggeleng, "Soalnya dia harus lompat-lompat kalo mau ngehapus papan. Hehehe" Aray membetulkan duduknya, kemudian melanjutkan. "Katanya 'tinggi aku kan gak semampai kayak kamu. Kalo nulis jangan tinggi-tinggi doong' gitu. Makanya, catetan-catetan di papan ini nggak bakal aku hapus. Biar dia ngomel, hihihi" katanya sambil menunjuk papan tulis yang penuh dengan hasil karyanya.
Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa-siswi keluar kelas, dan tinggallah Aray yang masih duduk termangu di kursi.
**
"Udah mulai ya?" tiba-tiba sosok Chika muncul di ambang pintu. Murid-murid yang notabene lagi asik menyantap makan, terbengong sebentar, tapi setelah itu menjawab serempak, "Belum sih mbak, masih 10 menit lagi. Tapi nggak apa kok, masuk aja, mbak"
Chika berdiri di tengah kelas. Sepertinya ia memperhatikan seisi ruangan. Diam-diam ia mengamati keadaan kelas yang baru dimasukinya 3 kali itu. "Sebelum saya tadi pelajaran apa?" salah seorang siswi langsung menyahut, "Kimia, mbak. Kenapa?" Chika manggut-manggut dan bercerita panjang lebar (lagi).
"Mas Aray itu kalo nulis mesti dari ujung ke ujung. Nah, tinggi aku kan gak semampai, jadi harus lompat-lompat kalo mau ngehapus. Mesti kok orang itu, jahat. Punya dendam pribadi sama aku kayaknya"
Tapi murid-murid cuma tersenyum simpul menanggapi omelan Chika. Mereka baru saja menyadari sesuatu saat Chika selesai berkomentar tentang Aray : Lihat! Papan tulisnya bersih!
Ramainya kelas, membuat 2 orang diantara para murid, 2 cewek yang duduk di bangku paling belakang, 2 orang yang sadar akan kejanggalan sikap Aray, dan 2 orang yang mulai mengerti kenapa tadi Aray enggan meninggalkan ruangan kelas saat jam mengajarnya selesai, 2 orang yang saling bertatapan dan tersenyum haru.
"Sepikiran ya?"
"Iya nih"
"Papannya udah dihapus tuh"
"He'eh. Pantes tadi si mas Aray nggak keluar-keluar juga padahal jam ngajarnya udah habis"
"Lucu ya? Hihihi"
"So sweet. Hahaha"
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar